Hay, ane mau berbagi lagi nih..
Menurut ane, ada 3 faktor yang menyebabkan anak indonesia selalu gagal dalam setiap hal.
1. Anak Indonesia berprinsip "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Saya punya teman, dia selalu bilang sama saya, kalau dia gak perlu kerja dan gak perlu berusaha. karena dia beranggapan bahwa dia akan sukses menjadi seorang bos. seperti ayahnya. Lah iya, kalau dia jadi bos. Klau hanya jadi karyawannya, gimana ?? Kalau jadi buruhnya ? Gimana?? Atau bahkan Jadi OB nya?? Parah banget kan orang yang berprinsip seperti itu. Hahaha... Bapaknya jadi BOS, lah anaknya jadi OB. Gak jauh sih, cuma beda penempatan huruf aja. Lihat aja.
2. Anak Indonesia selalu gila hormat. Contohnya aja gini gan, mereka kuliah sampai tinggi. Tapi mereka nganggur-nganggur juga. Tapi bukan berarti ane ngelarang kalian buat belajar. Yang penting, cari kuliahan yang cocok dan yang dibutuhkan dalam masyarakat. Bagi yang punya kualitas dan kreatifitas tersendiri, kembangin deh bakat kalian... OK
3. ini yang terakhir gan, orang indonesia selalu bilang "Takut gagal". Padahal belum aja mencoba. kan parah gan. Menurut orang-ornag bijak, "Mencoba adalah salah satu cara kita melangkah kepada kesuksesan". Itu sih yang ane denger. So, jangan takut gagal jika kita belum mencoba hal yang belum kita lakuakan.
Oke. kalau kalian suka, amalkan!!. jika tidak, jangan berisisk kalau ane nulis ini.
Thanks... :-)
Rabu, 20 Februari 2013
Minggu, 27 Januari 2013
Kamis, 17 Januari 2013
Selasa, 30 Oktober 2012
Lanjutan CERPEN BERUBAH
Sial,
monster yang tadi menendang Regga, berlari mendekatiku. Aku diam saja,
merinding. Saat jarak kami tak kurang dari lima langkah, aku membungkukkan
badan, segera berlari. Seetttt, aku
berhasil melewati monster, menembus celah di antara kakinya. Aku tidak berhenti
berlari. Monster berbalik, mengejarku.
Di tengah kepanikan, aku berlari
menghampiri Regga. Kutarik lengannya sampai tubuhnya ke luar dari kolam. Dengan
begini, aku tidak hanya sendirian dikejar monster. Ada Regga yang temaniku
berlari.
“Kamu ini, Fan! Tidak suka lihat
teman tenang. Kau pikir enak dikejar-kejar?!” Kukira Regga agak kesal. Aku
pura-pura tidak mendengarkan. Kami terus berlari. Namun, kejagoan Regga berlari
membuatku tertinggal di belakang.
Sempat-sempatnya Regga meraih
benda-benda di sekitarnya, padahal larinya sangat kencang. Benda yang ia dapat,
di lemparnya ke belakang tanpa melihat. Dasar, Regga ceroboh! Kelakuannya
memaksaku berlari sembari menghindar.
“Ga, kalau lempar liat-liat dong!”
Regga tak menghiraukannya. Ia tidak
berhenti melempari monster dan terus salah sasaran. Lebih dari tiga kali aku
menjadi korban karena ulahnya. Memang, tidak begitu sakit, karna yang mengenai tubuhku hanya kaleng minuman.
Meski demikian, ini menggangguku berlari.
BERSAMBUNG...
Lanjutan CERPEN BERUBAH..
“Ga,
aku tahu kau senang sekali, tapi kukira tidak perlu sampai menangis.”
“Lihat itu!” Telunjuknya mengarah ke
monster.
Ia menatapku lembut. Tak kusangka
Regga memelukku.
“Monster itu,…
Aku takut, Fandy!” Regga mematahkan
dugaanku. Cepat ia melepaskan pelukannya, langsung berlari kocar-kacir.
Malangnya, guru menarik kerah
bajunya bagian belakang. Hebat, Regga
tak mampu berlaku. Alhasil, ia lari di tempat. Dan dengan satu gerakan
sangat cepat, tiba-tiba guru membawa Regga ke dekat monster. Lalu guru
melepaskan pegangannya sebelum ia
menghilang. Otomatis Regga berhasi lari. Malangnya lagi, tanpa Regga sadari,
larinya mengarah ke monster, ia menabrak si monster.
Sadar yang ditabraknya makhluk
mengerikan, Regga menjerit sekenanya, “Fandy, Guru, tttttlooooonggg!”
Monster itu geram dengan kelakuan
Regga. Ditendangnya Regga hingga tubuhnya terombang-ambing di udara. Regga
masih saja berteriak. Ia mendarat tepat di samping monster yang satunya.
Tatkala bangun, matanya seolah copot melihat yang di sampingnya juga monster.
“Aaaaaaaaaaaa!!!!!” Regga berteriak
lagi, lari lagi, dan monster mengejarnya sembari menyemburkan api. Mereka berlari
memutari kolam air mancur. Setiap kali monster menyemburkan api, Regga
berteriak sambil ke dua lengannya memegangi bokong.
Larinya tak beralih. Ia terus berlari cepat memutari
kolam, monster mengejarnya, namun monster jauh lebih cerdas dari pada Regga.
Monser memutar arah, dan “ciluk baa!” Regga yang tengah konsentrasi berlari
dikejutkan oleh sosok monster yang berdiri di depannya. Belum sempat Regga
berteriak, monster membungkamnya lebih dulu. Mulutnya menyemburkan api ke tubuh
Regga. Kausnya terbakar. Monster pun pergi sesudah berhasil menyerang
mangsanya. Sekejap Regga diam.
“Awwwww, panas, panas
panaaasssss!!!” Ia berteriak lagi. Lengannya dikibas-kibaskan di dekat api yang
membakar kausnya. Regga yang panik lupa kalau disampingnya air memancar. Aku
yang masih berdiri menikmati kejadian ini, dibuat tidak sanggup menahan tawa.
Tetapi, lama-lama aku iba melihatnya.
“Regga, nyemplung ke kolam!” Giliranku
yang berteriak. Tak butuh waktu, Regga menyemplungkan tubuhya ke kolam.
Bersambung...
CERPEN
Berubah!!!!
Pagi hari kunikmati sarapan sepuluh
soal matematika yang memusingkan. Sudah empat puluh menit aku menggeluti soal-soal
itu, namun baru tiga soal yang dapat kuselesaikan. Entahlah, untuk orang yang
tidak pandai matematika sepertiku, ini sangat sulit dan butuh banyak waktu
menyelesaikannya.
Nampaknya,
ini pun terjadi pada rekanku sebangku, Regga. Sejak tadi ia hanya memainkan
pulpen. Kertas buram yang disediakan guru mata pelajaran untuk mengotret hanya
dikotori sekitar dua persennya. Aku yakin, Regga jauh lebih suka bergelut yang
sesungguhnya melawan monster-monster pengganggu di alam khayal, karena aku pun
merasa demikian.
Jika diibaratkan, soal matematika
bagaikan monster yang menyerang tiada henti, sayangnya kami tak punya daya
untuk berubah. Ada energi jahat yang menghalangi kami, pak guru! Kami terjebak
dalam keadaan yang amat menyulitkan, terdesak. Ini mirip dengan saat pertama
aku dan Regga dibawa ke alam khayal oleh guru.
Alam khayal terletak antara alam
nyata dan alam mimpi. Guru membawa kami ke alam khayal melalui alam mimpi. Ia
mengobrak-abrik mimpi kami, lalu menyeret kami ke alam yang lebih dekat dengan
alam nyata itu.
Di sana, kami digiring ke tempat yang tengah digempur
monster-monster. Guru berjanji menjadikan kami super hero untuk melawan
monster-monster itu. Jujur, ada kegirangan di hati ini, sebab aku salah satu
penggila super hero. Siapa tidak senang jika hanya dalam waktu singkat,
seseorang ‘kan menjelma menjadi seperti dambaanya.
Di luar dugaan, sesampainya di sana,
kami diminta melawan monster itu tanpa diberi senjata apa pun. Apa pun.
Sementara keselamatan tempat ini ada di tangan kami. Ini benar-benar menantang,
menakutkan, dan tentu saja hebat, guru mempercayai tanggung jawab yang sangat
besar kepada kami.
Regga terlihat amat bangga dengan
dirinya dan tugas itu. Ia berjalan sok gagah. Tangannya direnggangkan. Dadanya
membusung ke depan. Bahasa tubuhnya seolah menyiratkan, “Kemarilah, lawan aku!
Ada jagoan hebat menantangmu, dan kau harus siap mati.”
Satu
hal yang buatku aneh, begitu kami melihat secara langsung dua monster yang
tengah menyerang kota, ekspresi Regga menyikapi kesenangannya kelewat
berlebihan. Ia maju ke depan, mulutnya menganga sambil matanya melototi monster-monster
mengerikan itu. Aku mendekatinya. Kulihat matanya berair, perlahan bulir-bulir
bening menetes dari ke dua pelupuk matanya. Ia mewnangis haru saking senangnya.
Bersambung...
Rabu, 03 Oktober 2012
HAPPY BRITHDAY..
Waktu kini bertambah berlalu
Memberi cerita, hiasan cinta
Membawamu dalam samudra
yang penuh dengan karam dan pengalaman
Perjalanan terasa terus berjalan
Tempuhlah dengan penuh harapan
dan hiasi harimu dengan syair pujian
Agar engkau tetap dalam pujian
Dalam sujudku, aku selalu melantunkan do'a untukmu
Dalam tadahan tanganku
aku mencintaimu
Dan semoga engkau tahu
Dalam air mataku terbutir harapan untukmu
Dengan berbagai makna kata
Ku syariatkan sebuah ucapan indah dalam karya
Berisi lebih tinggi dari kata
Karena dalam tinta sunyi ini, aku dapat katakan
HAPPY BRITH DAY... :-)
Langganan:
Postingan (Atom)


