Berubah!!!!
Pagi hari kunikmati sarapan sepuluh
soal matematika yang memusingkan. Sudah empat puluh menit aku menggeluti soal-soal
itu, namun baru tiga soal yang dapat kuselesaikan. Entahlah, untuk orang yang
tidak pandai matematika sepertiku, ini sangat sulit dan butuh banyak waktu
menyelesaikannya.
Nampaknya,
ini pun terjadi pada rekanku sebangku, Regga. Sejak tadi ia hanya memainkan
pulpen. Kertas buram yang disediakan guru mata pelajaran untuk mengotret hanya
dikotori sekitar dua persennya. Aku yakin, Regga jauh lebih suka bergelut yang
sesungguhnya melawan monster-monster pengganggu di alam khayal, karena aku pun
merasa demikian.
Jika diibaratkan, soal matematika
bagaikan monster yang menyerang tiada henti, sayangnya kami tak punya daya
untuk berubah. Ada energi jahat yang menghalangi kami, pak guru! Kami terjebak
dalam keadaan yang amat menyulitkan, terdesak. Ini mirip dengan saat pertama
aku dan Regga dibawa ke alam khayal oleh guru.
Alam khayal terletak antara alam
nyata dan alam mimpi. Guru membawa kami ke alam khayal melalui alam mimpi. Ia
mengobrak-abrik mimpi kami, lalu menyeret kami ke alam yang lebih dekat dengan
alam nyata itu.
Di sana, kami digiring ke tempat yang tengah digempur
monster-monster. Guru berjanji menjadikan kami super hero untuk melawan
monster-monster itu. Jujur, ada kegirangan di hati ini, sebab aku salah satu
penggila super hero. Siapa tidak senang jika hanya dalam waktu singkat,
seseorang ‘kan menjelma menjadi seperti dambaanya.
Di luar dugaan, sesampainya di sana,
kami diminta melawan monster itu tanpa diberi senjata apa pun. Apa pun.
Sementara keselamatan tempat ini ada di tangan kami. Ini benar-benar menantang,
menakutkan, dan tentu saja hebat, guru mempercayai tanggung jawab yang sangat
besar kepada kami.
Regga terlihat amat bangga dengan
dirinya dan tugas itu. Ia berjalan sok gagah. Tangannya direnggangkan. Dadanya
membusung ke depan. Bahasa tubuhnya seolah menyiratkan, “Kemarilah, lawan aku!
Ada jagoan hebat menantangmu, dan kau harus siap mati.”
Satu
hal yang buatku aneh, begitu kami melihat secara langsung dua monster yang
tengah menyerang kota, ekspresi Regga menyikapi kesenangannya kelewat
berlebihan. Ia maju ke depan, mulutnya menganga sambil matanya melototi monster-monster
mengerikan itu. Aku mendekatinya. Kulihat matanya berair, perlahan bulir-bulir
bening menetes dari ke dua pelupuk matanya. Ia mewnangis haru saking senangnya.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar