Selasa, 30 Oktober 2012

CERPEN


Berubah!!!!

            Pagi hari kunikmati sarapan sepuluh soal matematika yang memusingkan. Sudah empat puluh menit aku menggeluti soal-soal itu, namun baru tiga soal yang dapat kuselesaikan. Entahlah, untuk orang yang tidak pandai matematika sepertiku, ini sangat sulit dan butuh banyak waktu menyelesaikannya.
Nampaknya, ini pun terjadi pada rekanku sebangku, Regga. Sejak tadi ia hanya memainkan pulpen. Kertas buram yang disediakan guru mata pelajaran untuk mengotret hanya dikotori sekitar dua persennya. Aku yakin, Regga jauh lebih suka bergelut yang sesungguhnya melawan monster-monster pengganggu di alam khayal, karena aku pun merasa demikian.
            Jika diibaratkan, soal matematika bagaikan monster yang menyerang tiada henti, sayangnya kami tak punya daya untuk berubah. Ada energi jahat yang menghalangi kami, pak guru! Kami terjebak dalam keadaan yang amat menyulitkan, terdesak. Ini mirip dengan saat pertama aku dan Regga dibawa ke alam khayal oleh guru.
            Alam khayal terletak antara alam nyata dan alam mimpi. Guru membawa kami ke alam khayal melalui alam mimpi. Ia mengobrak-abrik mimpi kami, lalu menyeret kami ke alam yang lebih dekat dengan alam nyata itu.
            Di sana, kami digiring  ke tempat yang tengah digempur monster-monster. Guru berjanji menjadikan kami super hero untuk melawan monster-monster itu. Jujur, ada kegirangan di hati ini, sebab aku salah satu penggila super hero. Siapa tidak senang jika hanya dalam waktu singkat, seseorang ‘kan menjelma menjadi seperti dambaanya.
            Di luar dugaan, sesampainya di sana, kami diminta melawan monster itu tanpa diberi senjata apa pun. Apa pun. Sementara keselamatan tempat ini ada di tangan kami. Ini benar-benar menantang, menakutkan, dan tentu saja hebat, guru mempercayai tanggung jawab yang sangat besar kepada kami.
            Regga terlihat amat bangga dengan dirinya dan tugas itu. Ia berjalan sok gagah. Tangannya direnggangkan. Dadanya membusung ke depan. Bahasa tubuhnya seolah menyiratkan, “Kemarilah, lawan aku! Ada jagoan hebat menantangmu, dan kau harus siap mati.”
Satu hal yang buatku aneh, begitu kami melihat secara langsung dua monster yang tengah menyerang kota, ekspresi Regga menyikapi kesenangannya kelewat berlebihan. Ia maju ke depan, mulutnya menganga sambil matanya melototi monster-monster mengerikan itu. Aku mendekatinya. Kulihat matanya berair, perlahan bulir-bulir bening menetes dari ke dua pelupuk matanya. Ia mewnangis haru saking senangnya.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar